SOROTREPUBLIK, JAKARTA – Di zaman ketika nilai seseorang sering diukur dari apa yang dimilikinya, Dia memilih jalan yang sama sekali berbeda.
Dia berjalan ringan, pelan, hampir tanpa beban, seolah tahu sejak awal bahwa hidup bukan tentang menumpuk, melainkan tentang melepaskan.
Dalam dunia yang disesaki oleh ambisi, dia adalah sunyi yang teguh dan dalam dunia yang cepat, dia justru berhenti dan benar-benar hidup.
Dia tidak pernah tertarik pada kemewahan. Baginya, cukup berarti benar-benar cukup. Pakaian yang dipakai sampai tipis, barang diperbaiki berkali-kali sebelum diganti, dan kebahagiaan tidak pernah dia cari di etalase toko.
Dia selalu berbicara apa adanya. Tidak pandai basa-basi. Kadang ucapannya terasa tajam, tapi tidak pernah berniat melukai. Dia hanya tidak tahu cara membungkus kebenaran dengan pita yang cantik. Baginya, kebenaran itu sendiri sudah cukup indah, meski sering terasa pahit.
Di rumah, dia bukan orang yang banyak menuntut; dia tidak pernah bermimpi tentang rumah yang besar, kendaraan yang mewah, dia tidak pernah sama sekali mengeluh tentang apa yang tidak ia miliki. Yang dia jaga justru hal-hal yang sering luput dari perhatian: waktu makan bersama, lampu yang dimatikan saat tidak dipakai, air yang tidak terbuang sia-sia. Hal-hal kecil yang bagi orang lain sepele, baginya adalah bentuk tanggung jawab pada hidup.
Serupa Diogenes yang memilih hidup di luar kemapanan untuk menjaga kebebasannya, Dia memilih kesederhanaan untuk menjaga jiwanya tetap utuh.
Dari dia, aku belajar bahwa harga diri tidak ditentukan oleh jabatan. Dia tidak butuh gelar tinggi untuk berdiri tegak. Dia tidak perlu pengakuan banyak orang untuk merasa berarti. Seperti Diogenes yang berjalan dengan lentera nya di siang hari mencari “manusia sejati”, Dia menjalani hidup dengan kejujuran yang kadang terasa terlalu polos untuk dunia yang serakah ini.
kebebasan sejati datang ketika kita tidak lagi diperbudak oleh keinginan. Dia adalah orang merdeka dengan cara yang paling sunyi, setidaknya itu yang aku tahu.


