JAKARTA ~ Pageant di Indonesia telah melalui perjalanan panjang. Dari sekadar ajang hiburan dan kompetisi penampilan, pageant perlahan berkembang menjadi ruang representasi nilai, identitas, dan aspirasi sosial. Namun, perubahan zaman menuntut lompatan yang lebih besar. Dunia tidak lagi menilai seseorang semata dari visual, tetapi dari gagasan, karakter, dan dampak yang ditinggalkan. Dalam konteks inilah, era baru pageant Indonesia lahir dan dirumuskan.
Ketika saya merancang konsep pemilihan Miss & Mister Nusantara Archipelago International, Miss, Mrs, dan Mister Zamrud Khatulistiwa, Miss & Mrs Hijab Heritage International, serta Talent Kids International, saya tidak sekadar membangun ajang kompetisi. Saya merancang sebuah ekosistem. Sebuah gerakan yang berangkat dari kesadaran budaya, karakter bangsa, dan tanggung jawab sosial, dengan fondasi kuat pada kepribadian Indonesia. Inilah titik awal dari new era pageant and entertainment Indonesia.
Pageant sebagai Ruang Pemikiran, Bukan Sekadar Penampilan
Tagline yang diusung, “We do not speak, we do not walk, but we think and use our brains,” bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah pernyataan sikap. Sebuah kritik halus terhadap budaya instan yang sering menempatkan pageant pada ruang sempit: berbicara indah, berjalan anggun, dan tampil memikat. Era baru pageant menolak reduksi tersebut.
Pageant tidak lagi hanya tentang apa yang terlihat di atas panggung, tetapi tentang apa yang tumbuh di dalam diri peserta. Cara berpikir, kemampuan menganalisis persoalan, keberanian bersikap, dan kesanggupan mengambil peran nyata dalam masyarakat menjadi inti dari proses seleksi dan pembinaan. Peserta tidak dituntut untuk banyak berbicara, tetapi untuk berpikir jernih. Tidak dituntut untuk berjalan sempurna, tetapi untuk melangkah dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Identitas Nusantara sebagai Fondasi Global
Indonesia adalah bangsa dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Namun, kekayaan tersebut sering kali hanya menjadi ornamen, bukan substansi. Dalam era baru pageant, budaya Nusantara ditempatkan sebagai fondasi berpikir dan bertindak, bukan sekadar kostum atau simbol.
Konsep Nusantara Archipelago International dan Zamrud Khatulistiwa menegaskan bahwa identitas Indonesia tidak bertentangan dengan standar global. Justru sebaliknya, karakter lokal yang kuat menjadi modal utama untuk tampil di tingkat internasional. Peserta diarahkan untuk memahami nilai-nilai luhur Nusantara: gotong royong, etika, kesantunan, tanggung jawab sosial, serta harmoni dengan alam. Nilai-nilai ini tidak diajarkan sebagai hafalan, tetapi sebagai sikap hidup yang tercermin dalam perilaku, keputusan, dan karya.
Standar Seleksi Berbasis Karakter dan Integritas


