SOROTREPUBLIKA PATI • Fenomena rakyat Pati melawan adalah cerminan protes yang pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Bumi Manusia (1980-an).
Dalam Tetralogi Buru, khususnya dalam "Bumi Manusia", Pramoedya Ananta Toer memang mengangkat isu tentang penjajahan dan ketidakadilan, termasuk bagaimana bangsa sendiri, dalam hal ini orang Jawa, bisa juga bersikap kejam terhadap bangsanya sendiri. Pertanyaan "Minke, kau kira Jawa tidak lebih kejam dari kami bila menjajah bangsanya sendiri?" menyoroti potensi konflik internal dalam masyarakat terjajah, di mana kelompok yang memiliki kekuasaan atau akses lebih (seperti priyayi Jawa) bisa saja bertindak menindas kelompok yang lebih lemah, meskipun sama-sama pribumi.
Penjelasan lebih lanjut:
Konflik Internal:
Pramoedya tidak hanya menyoroti konflik antara pribumi dan penjajah Belanda, tetapi juga konflik internal dalam masyarakat Indonesia sendiri. "Bumi Manusia" menggambarkan bagaimana struktur sosial dan hierarki kekuasaan pada masa itu menciptakan ketidakadilan, bahkan di antara sesama pribumi.
Kritik terhadap Elite:
Novel ini mengkritik elite pribumi yang cenderung meniru cara berpikir dan bertindak seperti penjajah, bahkan terkadang lebih kejam dalam menindas rakyat kecil.
Nasionalisme dan Kemanusiaan:
Pramoedya melalui karyanya mendorong munculnya kesadaran nasionalisme dan pentingnya kemanusiaan. Ia ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya terbebas dari penjajah asing, tetapi juga dari penindasan di dalam negeri.


