SOROT REPUBLIKA_BOGOR | Saat kita memasuki usia yang tidak lagi muda, kesunyian datang, mengetuk bagian terdalam hati kita. Di ruang yang tenang itu, banyak pertanyaan muncul—kebanyakan tidak perlu dijawab. Mereka hanya melayang di pikiran, sementara kita tersenyum dan menyeruput kopi. Kita terus mengingatkan diri bahwa hidup patut dipertanyakan.

Henry David Thoreau menggambarkan manusia modern sebagai mereka yang selalu mengejar pengakuan dan status. Semakin kita mengejarnya, semakin kita menjadi orang asing bagi diri sendiri. "Kita sibuk setiap hari mencari hidup, namun jarang benar-benar hidup," katanya.
Di tengah banjir informasi dan kecenderungan untuk menyangkal, kita terlempar ke dalam keberadaan instan yang penuh drama. Orang modern menginginkan ketenaran tapi merasa semakin kosong. Tujuan kita tampaknya berkurang menjadi pencarian absurd untuk mendapatkan persetujuan.
Perjalanan 2025 baru saja berakhir, terbungkus kelelahan dan doa panjang. Setiap langkah—baik atau buruk—hanyalah penerimaan. Ini bukan hanya tentang menghitung pergantian tahun; ini tentang membuka diri kita untuk pertumbuhan terus-menerus.
2025 mungkin tidak selalu baik, bahkan telah sangat kejam, tapi juga bisa membuat kita lebih kuat. Tidak semua hal menghasilkan hasil yang nyata, namun banyak pelajaran menjadi lebih bermakna.
Titik nol kilometer 2026 sudah di depan mata, sebuah timeline baru sedang digambar ulang. Seberapa jauh kita melangkah tergantung pada apa yang benar-benar kita inginkan, dan di ruang sunyi itulah kita menemukannya lagi.
"Kesunyian bukanlah kekosongan—itu adalah ruang di mana kita bertemu diri sendiri," seperti yang Thoreau ingatkan.
Jangan terlalu terjerat dalam naik turunnya hidup. Apakah kita sukses atau gagal, miskin atau kaya, terkenal atau tidak, kuat atau lemah—anggap saja itu bagian dari perjalanan.
Hari dimulai dengan matahari pagi dan berakhir dengan senja, dan setiap malam diikuti oleh fajar. Yang penting adalah bagaimana kita memandang fluktuasi hidup itu.


