TANGGERANG – Ketika itu matahari belum tinggi  ratusan warga berkumpul di lapangan desa. Seorang nelayan tua maju ke depan, tubuhnya ringkih, tapi suaranya tegas.

“Kita bukan melawan orang biasa,” katanya. “Kita melawan pengusaha yang punya akses langsung ke Istana!”

Sorot mata warga menajam. Mereka tahu siapa yang ia maksud: Sugianto Kusuma alias Aguan , taipan properti yang telah lama menguasai megaproyek di berbagai daerah. Kali ini, ambisinya menyasar tanah mereka di Banten.

Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan akan dipagari. Lahan pertanian akan diubah menjadi kompleks mewah. Mereka berusaha mengangkat kaki dengan perdamaian yang tak masuk akal.

“Kalau kita diam, kita akan menjadi buruh di tanah sendiri,” seru nelayan tua itu. “Atau lebih buruk lagi, kita akan terus berlanjut!”

iklan sidebar-1

Suasana kian panas. Kaum ibu menggenggam tangan anak-anak mereka, pemuda desa menggenggam tangan. Perlawanan ini bukan sekadar soal tanah—ini soal harga diri.

Janji Manis, Realitas Pahit

Pejabat daerah datang dengan senyum lebar, membawa pidato soal investasi dan kesejahteraan .

“Proyek ini akan membuka ribuan lapangan kerja!” kata mereka dengan suara berjanji.