Jakarta, || Dinamika politik global yang terus bergerak cepat, Indonesia kini berada pada posisi yang tidak sederhana. Di satu sisi, pemerintahan Prabowo Subianto berupaya memperluas jejaring diplomasi internasional melalui keterlibatan dalam forum Board of Peace (BoP). Di sisi lain, situasi geopolitik justru memanas, terutama setelah eskalasi konflik di Timur Tengah yang menimbulkan guncangan besar bagi stabilitas kawasan dan dunia.kata Eggi Sudjana dalam keterangan tertulis kepada wartawan pada (3/3/26

Board of Peace (BoP) merupakan inisiatif internasional yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Secara formal, BoP dipromosikan sebagai forum perdamaian dan stabilisasi konflik, khususnya dalam menanggapi perang di Gaza dan dinamika keamanan global. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, dilaporkan terlibat dalam forum itu. Namun, karena kepemimpinannya sangat menarik bagi Amerika Serikat, sebagian pengamat memandang BoP bukanlah lembaga multilateral yang netral seperti PBB, melainkan lebih sebagai instrumen strategi diplomasi Washington.
Persoalan menjadi jauh lebih sensitif ketika terjadi serangan militer terhadap Iran yang mengalahkan pemimpin tertingginya, Ali Khamenei dan melaporkan wafat akibat serangan udara yang menghancurkan kompleks kepemimpinan di Teheran. Peristiwa itu tidak hanya menjadi tragedi nasional bagi Iran, namun juga menjadi titik balik geopolitik yang memicu gelombang reaksi keras dari berbagai negara.
Iran menyatakan masa berkabung nasional dan menegaskan akan melakukan respons terhadap serangan tersebut. Situasi ini memunculkan solidaritas dari sejumlah negara besar yang selama ini memiliki hubungan strategis dengan Teheran.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam tindakan keras tersebut. Presiden Tiongkok Xi Jinping stabilitas dan dialog, namun dalam konteks hubungan geopolitik yang lebih luas, posisi Beijing seringkali berbeda dengan kebijakan militer Washington. Sementara itu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un juga memiliki kedekatan strategi dengan blok yang berseberangan dengan Amerika Serikat, khusunya Iran.
Kondisi ini menciptakan peta kekuatan global dua kutub, yakni blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan sekutunya, serta blok yang berisi Rusia, Tiongkok, Korea Utara dan negara-negara yang kritis terhadap dominasi Barat. Jika eskalasi terus berlanjut, maka risiko konflik regional akan berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas bukanlah hal yang mustahil.
Di tengah eskalasi tersebut, dimensi militer menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Iran dalam satu dekade terakhir dikenal memperkuat kemampuan rudal dan drone tempurnya secara signifikan. Salah satu sistem yang banyak dibahas analis militer adalah rudal hipersonik Fattah, yang diklaim mampu bermanuver dengan kecepatan sangat tinggi sehingga sulit dicegat sistem pertahanan udara konvensional. Selain itu, Iran juga memiliki rudal balistik jarak menengah seperti Khorramshahr serta berbagai drone tempur jarak jauh yang telah digunakan dalam berbagai operasi regional. Kapasitas ini menjadikan Iran lebih dari pertahanan dengan kemampuan daya gentar (pencegahan) yang nyata.
Rusia sendiri memiliki sistem rudal hipersonik seperti Avangard dan Kinzhal, serta sistem pertahanan udara S-400 dan S-500 yang disebut-sebut sebagai salah satu yang paling canggih di dunia. Tiongkok mengembangkan rudal hipersonik DF-17 dan sistem anti kapal yang dirancang untuk mengancam kapal induk lawan. Korea Utara memperkenalkan rudal antarbenua seperti Hwasong-18, yang diklaim mampu menjangkau wilayah jauh dengan teknologi bahan bakar padat yang akan menambah kehancuran besar dalam pertempuran.
Keberadaan sistem-sistem persenjataan ini mengubah kalkulasi strategi global. Perang modern tidak lagi semata-mata mengandalkan jumlah pasukan atau tank, melainkan pada kemampuan presisi jarak jauh, kecepatan hipersonik, kecerdasan buatan, dan sistem perlindungan berlapis. Dalam konteks inilah kekhawatiran muncul jika konflik antara Iran dan sekutunya dengan Amerika Serikat serta meluasnya Israel, maka eskalasi bisa melibatkan teknologi militer paling mutakhir yang pernah dikembangkan manusia.


