SOROT-R, JAKARTA – Badan Urusan Logistik (Bulog) melaporkan realisasi penyaluran bantuan pangan hingga awal April 2026 masih relatif rendah. Hingga 7 April 2026, Bulog mencatat telah menyalurkan sebanyak 32,14 juta kilogram beras dan 6,4 juta liter minyak goreng kepada masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Data tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI pada 7 April 2026. Ia mengungkapkan bahwa capaian penyaluran bantuan pangan (banpang) baru tersebut mencapai sekitar 4,83 persen dari total target yang telah ditetapkan pemerintah.
“Penyaluran bantuan pangan ini memang belum optimal. Administrasi baru kami terima di akhir Maret, ditambah momentum Ramadhan dan Idulfitri yang membuat distribusi tidak bisa maksimal,” ujar Rizal dalam rapat tersebut.
Rizal menjelaskan, proses distribusi bantuan sempat tertunda karena bertepatan dengan periode Ramadhan hingga Idulfitri 2026, di mana aktivitas logistik mengalami penyesuaian. Selain itu, keterlambatan administrasi yang baru diterima pada akhir Maret juga menjadi faktor penghambat utama.
Penyaluran bantuan pangan sendiri baru efektif berjalan pada akhir Februari hingga Maret 2026. Dengan waktu pelaksanaan yang relatif singkat, capaian distribusi masih tergolong rendah.
Tak hanya bantuan beras, distribusi minyak goreng juga program untuk melawan tantangan. Produk minyak goreng rakyat, Minyakita, sempat mengalami keterbatasan pasokan akibat kebijakan Kewajiban Pasar Domestik (DMO) yang diatur oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
Menurut Rizal, keterbatasan stok tersebut membuat Bulog harus melakukan prioritas distribusi. Pemerintah setelah memutuskan untuk mengutamakan penyediaan kebutuhan selama Ramadhan dan Idulfitri, sementara penyaluran bantuan pangan dilakukan pada periode tersebut.
“Kami telah berkoordinasi dengan Menteri Pertanian dan Menko Pangan, sehingga prioritas distribusi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pada hari besar keagamaan,” jelasnya.
Selain bantuan pangan langsung, program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga menunjukkan realisasi yang belum maksimal. Hingga awal April, penyaluran beras SPHP baru mencapai 77,47 juta kilogram atau sekitar 9,36 persen dari target tahunan.



