JAKARTA – Dulu sebelum jadi presiden Prabowo dengan lantang menyampaikan, "Kedepan Bobil  Kita Yang Kita Pakai Harus Produk Indonesia." Kata kata itu masi terngiang ditelinga rakyat Indonesia, Sekaran 105 Mobil Produk India Sudah di Datangkan.


Kontroversi Impor Mobil India Rp 24 Triliun Saat Pabrik Lokal Sedang Nganggur, katanya masih diminta Tunda Tapi faktanya Sudah Tiba 1.000 Pickup India Masuk RI, 200 Unit Langsung Didistribusikan.

Khusus untuk segmen pick up, kapasitas produksi nasional mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun.

Mirisnya, angka besar ini belum terserap sepenuhnya oleh pasar. Bahkan produk lokal tipe 4×2 juga sudah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40 persen dengan dukungan jaringan servis yang merata.


Keputusan untuk melakukan impor mobil dari India bahkan dinilai hanya melihat faktor ekonomi semata tanpa ada urgensi yang mengharuskan dilakukannya impor.

iklan sidebar-1

“Agrinas atau siapa pun yang ada di belakangnya jelas hanya melihat dari sudut ekonomi, karena harga impor 20%-50% lebih murah setelah pajak AIFTA. Sehingga memungkinkan penghematan anggaran perusahaan hingga Rp5-10 triliun,” ujar Yannes Martinus Pasaribu, Pengamat Otomotif dan Akademisi Institut Teknologi Bandung kepada Suara.com, Senin (23/2/2026).

Lebih lanjut, Yannes menilai, kebijakan ini sangat disruptif terhadap industri otomotif domestik yang memiliki kapasitas produksi hingga 1 juta unit per tahun dan model setara seperti Toyota Hilux, Isuzu Traga, Mitsubishi L300, Daihatsu Gran Max, atau Suzuki Carry yang sudah memenuhi TKDN

Jadi upaya bisnis impor CBU Mahindra dan Tata Motors yang dilakukan Agrinas ini agak membingungkan, karean ada resiko mismatch kebutuhan, sebab tidak semua desa membutuhkan kendaraan angkut 4x4.

“Ya ampun, tanpa pemetaan berbasis data, armada berisiko jadi aset menganggur. Lalu akan muncul masalah berikutnya, dengan ketergantungan spare part & aftersales untuk 105rb unit, hampir setara dengan total Wholesales pikap domestik 2025 yang berada di kisaran 107.000 unit, kalau jaringan aftersales serive dan spareaprtsnya belum siap dijamin akan menimbulkan risiko downtime (kendaraan jadi idle) dalam jangka waktu tertentu,” tegas Yannes.