JAKARTA| Masyarakat sepertinya tidak lagi percaya adanya keadilan di negeri ini, kalau aparat penegak hukum hanya mencari kepentingan pribadi atau klompok apa lagi sampai takut kepada kepada kekuasaan atau kekuatan. karena kebenaran akan terwujud apa bila keberanian penegak hukum untuk menyatakan kebenaran.

Terkait izasah Jokowi, "Selain Ijazah asli lulusan Fakultas Kehutanan UGM dan Transkrip nilai asli, yang ada pada kami saat ini sebelumnya sudah terlalu banyak data, terlalu terang benderang fakta."

"Penelitian independen yang kami lakukan selama ini, oleh RRT: Roy, Rismon, Tifa dkk, telah menyusuri tiap inci jejak digital, menyandingkan bukti otentik, membedah narasi dan gerak tubuh dengan neurosains dan ilmu perilaku, memverifikasi dokumen lintas waktu, bahkan mengkonfirmasi silang melalui historiografi, komunikasi politik, hingga sosiopatologi jaring-jaring kekuasaan." Dr. Tifa.

Dan kesimpulannya ?

Taraf kepercayaan 99,9%.

iklan sidebar-1

Satu-satunya yang tersisa hanyalah keberanian publik untuk menerimanya. Dan keberanian Presiden @prabowo. untuk mendukungnya.

Namun, pelaku yang masih berkuasa tidak akan diam. Peningkatan status dari penyelidikan menjadi penyidikan yang begitu cepat, bukan karena kekuatan bukti, melainkan karena ketakutan akan kebenaran.

Inilah modus yang berulang: seperti pembungkaman terhadap Bambang Tri, seperti pemenjaraan terhadap Gus Nur, kekuasaan yang terguncang selalu menjawab dengan intimidasi.

Kita tidak sedang menghadapi hukum yang netral. Kita sedang menghadapi pelaku yang panik.