JAKARTA, SR — Wacana kegiatan belajar bagi siswa sekolah kembali dilaksanakan secara bold (online) mulai April 2026 katanya demi  efisiensi atau strategi kebijakan? sikap  yang akan diambil oleh pemerintah menuai beragam kritik dari berbagai pihak, Alan Somantri sebagai pengamat dan pemerhati media sosial juga menyoroti kebijakan tersebut.


"Wacana Sekolah Daring Demi Efisiensi Dinilai Tak Efektif, Pendidikan Jangan Dikorbankan kita sudah ketinggalan jauh dari negara lain, jika ini diteruskan maka akan ada kemunduran, dampak global dari perang antara Iran dengan Israel dibantu Amerika. banyak solusi kalau pemerintah benar-benar tegas dan transparan efisiensi bisa dilakukan kepada pejabat pejabat agar bekerja naik kereta KRL, pemangkasan tunjangan dari pada uang rakyat dihambur hamburkan, jangan orang ekonomi sulit yang ditindas dengan alasan efisiensi BBM, belajar merupakan kewajiban dan pemerintah sesuai amanat undang undang di wajibkan untuk memfasilitasi." Ujar Alan.


Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, merasa keberatan dengan kebijakan tersebut.


Menurutnya, belajar dari pengalaman Covid-19, pembelajaran berani kurang efektif bagi siswa.

Dia mengatakan bahwa wacana kebijakan sekolah berani ini perlu dikaji lebih mendalam lagi.

iklan sidebar-1

“Pembelajaran secara ini pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah Covid-19. Dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan permasalahan yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita,” tegas Esti.

Dampak yang ia maksud meliputi tantangan kemampuan anak dalam menyerap materi pelajaran, kedisiplinan, pembentukan karakter, kendala teknologi, dan lain sebagainya.

“Hal-hal tersebut adalah masalah yang tidak sederhana,” kata legislator yang membidangi urusan pendidikan itu.

Dia menjelaskan bahwa salah satu dampak dari pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19 adalah learning loss, yakni fenomena yang muncul ketika peserta didik malas belajar dan cenderung melupakan sekolahnya.