KAB. ACEH TAMIANG – Presiden Prabowo Subianto menyebut pemulihan pascabencana longsor dan banjir di Aceh sudah hampir 100 persen. Hal ini disebutkannya usai melaksanakan salat Id di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (21/3/2026).

"Di tenda sudah gak ada lagi, 100 persen. Semua sudah keluar dari tenda masuk ke perumahan-hunian sementara ataupun perumahan tetap sudah mulai," ujar Prabowo dilansir dari laman resmi presidenri.go.id, Selasa (23/3/2026).

Pernyataan Prabowo ini pun menuai kritik keras. Mulai dari para penyalin langsung hingga para pegiat.
1. Warga Sekumur masih berjuang, berlebaran di tenda hingga hidup tanpa kepastia
Pernyataan Prabowo menjadi paradoks dengan kondisi di lapangan. Jamak penyuntas masih hidup di tenda-tenda pengungsian dengan segala keterbatasannya.
Di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, misalnya. Hampir seluruh penduduk Sekumur masih tinggal di dalam tenda-tenda yang didirikan di tapak-tapak rumah. Sebagian lainnya secara mandiri membangun rumah dengan bahan kayu yang hanya terbawa banjir.
Jangankan untuk berlebaran, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun kesulitan mereka. IDN Times sempat menyaksikan langsung bagaimana kesulitan warga menjalani Ramadhan dan sebelum Lebaran tiba. Kondisi di sana begitu berbanding terbalik dengan pernyataan klaim Prabowo.
Wara Cantika, seorang warga di Desa Sekumur, menyampaikan kekecewaan atas pernyataan Prabowo di akun Instagram-nya. Dalam unggahan, Minggu (22/3/2026), Wara mengatakan pernyataan Prabowo mengecewakan para penyintas yang masih hidup di tenda.
"Bapak jangan percaya kali sama jajaran Bapak. Jajaran Bapak bilang, baik-baik saja. Bapak jangan terlalu percaya pak. Bapak lihat penderitaannya kami pak," ujar Wara dalam unggahan videonya.


