CARINGIN, BOGOR — Di sebuah sudut Desa Caringin, sebuah praktik "kanibalisme" ekonomi sedang berlangsung. Ribuan butir telur infertil—limbah industri yang secara hukum dilarang dikonsumsi—diduga kuat sengaja "dihidupkan kembali" untuk mendarat di meja makan warga. Temuan ini bukan sekadar pelanggaran niaga, melainkan sebuah bentuk pengkhianatan terhadap kemanusiaan demi pundi-pundi rupiah yang amis. (14/5/2026)

Labirin Busuk di Balik Dinding Gudang
Penelusuran tim investigasi mengungkap tabir gelap di sebuah gudang tertutup. Aroma busuk protein yang membusuk menyengat hidung bahkan sebelum kaki melangkah masuk. Di dalamnya, pemandangan mengerikan tersaji: telur-telur sisa inkubator (Hatched Egg/HE) yang gagal menetas—yang seharusnya dihancurkan—justru ditimbun secara masif.

Lebih menjijikkan, ditemukan tumpukan telur pecah yang dikemas dalam plastik kiloan dan dibekukan di dalam freezer. Tanpa standar higienitas, tanpa izin edar, dan tanpa nurani.
"Telur hancuran ini sudah didinginkan, dibekukan. Biasanya lari ke pengusaha kue yang tergiur harga murah," ujar seorang narasumber yang menunjukkan bukti tumpukan limbah beku tersebut.

Manipulasi Fisik dan Kebocoran Sistemik
Praktik ini dilakukan dengan sangat terorganisir. Ada indikasi kuat penggunaan larutan kimia untuk menyulap cangkang telur infertil yang bercak-bercak agar terlihat putih bersih layaknya telur segar. Ini adalah penipuan visual yang terencana.
Pertanyaan besarnya: Bagaimana limbah perusahaan pembibitan (breeding) dalam skala ribuan butir bisa bocor ke pasar gelap?
Pak Roger sebagai pemerhati masyarakat bersama media melihat kegiatan pak iman sebagai pengusaha telur infertil di caringin Kabupaten Bogor



