SOROTREPUBLIKA — Sekilas, lelaki dalam foto ini tampak biasa saja. Kemeja garis-garis yang lengannya digulung, senyum tipis yang tenang, tangan yang menggenggam jemari putrinya dengan hati-hati. Jika kita tidak mengenalnya, mungkin kita akan mengira dia ayah pada umumnya: sedikit gugup, sedikit bangga, berdiri di samping putri yang baru lulus kuliah.

Bersahaja itu pilihan, Tapi dia bukan orang biasa. 


Dia adalah Sultan Hassanal Bolkiah. Orang nomor satu di Brunei Darussalam. Salah satu manusia terkaya di muka bumi. Istana yang ia tinggali punya 1.788 kamar. Garasi pribadinya menampung lebih dari 7.000 mobil mewah. Emas, berlian, dan kuasa, semuanya ada dalam genggamannya sejak puluhan tahun lalu.

Namun hari itu, ia memilih menjadi ayah. 

Tidak ada jubah kebesaran. Tidak ada barisan pengawal. Tidak ada kemegahan yang memisahkan ia dari orang tua lain di ruangan itu. Yang ada hanya kemeja sederhana, jam tangan yang fungsional, dan genggaman pada lengan putrinya, Putri Ameerah Wardatul Bolkiah. 

iklan sidebar-1
Iklan paragrap lima

Di momen kelulusan ini, toga dan selempang putrinya justru terlihat lebih “mewah” dari pakaiannya sendiri. Dan itu disengaja. Karena hari ini bukan tentang Sultan. Hari ini tentang seorang anak yang berhasil menuntaskan satu babak, dan seorang ayah yang ingin hadir sepenuhnya untuk itu.

Mungkin inilah paradoks yang paling jujur tentang kekuasaan dan harta: ketika kamu sudah memiliki segalanya, kamu sadar bahwa yang paling mahal adalah hal-hal yang tidak bisa dibeli. Kebanggaan melihat anakmu tumbuh. Kehangatan berdiri di sampingnya tanpa jarak. Momen yang tidak butuh tahta untuk terasa agung.

Kesedihan yang tampak di wajahnya, jika ada, bukanlah duka. Itu adalah ekspresi seorang ayah yang tahu: waktu tidak bisa dihentikan. Putrinya telah dewasa. Sebentar lagi ia akan melangkah lebih jauh, membangun dunianya sendiri. Dan semua istana di Brunei tidak cukup untuk menahan detik itu.

Kita sering mengira kemewahan adalah tentang menambah. Mobil lebih banyak, gelar lebih panjang, sorotan lebih terang. Foto ini membalik logikanya. Bersahaja bukan karena tidak mampu. Bersahaja adalah ketika kamu sudah melewati titik butuh pembuktian.