LIPUTAN KHUSUS KLATEN — Kasus Ayah Cabuli Anak Kandung di Klaten Jadi Tamparan Keras bagi Lingkungan, Pendidikan, dan Nurani Masyarakat, Sebuah buku harian lusuh kini menjadi saksi paling sunyi dalam pengungkapan kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak yang mengguncang Kabupaten Klaten. Di dalamnya, tertulis ketakutan, tangisan, dan luka batin yang selama bertahun-tahun dipendam dua anak perempuan yang diduga menjadi korban ayah kandung mereka sendiri.

Tak ada teriakan. Tak ada keberanian melapor sejak awal. Yang ada hanya tulisan-tulisan kecil di halaman diary, ditulis diam-diam setiap kali dugaan perbuatan bejat itu kembali terjadi.

Ironisnya, sosok yang kini menjadi tersangka bukan orang asing. Ia adalah pria berinisial AK (42), seorang ayah kandung yang juga dikenal sebagai pendidik agama di lingkungannya.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi nurani masyarakat. Di balik citra religius dan penghormatan sosial, polisi justru menemukan dugaan tindakan yang disebut sebagai pelecehan seksual terhadap anak kandung sendiri.

Kapolres Klaten AKBP Moch Faruk Rozi mengungkapkan bahwa catatan harian korban menjadi salah satu petunjuk penting dalam proses penyelidikan.

iklan sidebar-1
Iklan paragrap lima

“Korban selalu menuliskan kronologi kejadian di buku diary masing-masing,” ujarnya, Senin (18/5/2026).

Tulisan itu kemudian membantu penyidik memperjelas rangkaian peristiwa yang dialami korban. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti lain berupa pakaian milik korban, termasuk jubah, jilbab, dan pakaian dalam.

Meski detail isi diary tidak diungkap demi melindungi kondisi psikologis korban, keberadaan catatan tersebut memperlihatkan betapa lama trauma itu dipendam sendirian.

Anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam kasih sayang justru diduga hidup dalam ketakutan di rumah sendiri. Mereka memilih menulis karena mungkin merasa tak memiliki ruang aman untuk bicara.